Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan
Ahok Jalani Konseling dan Tes HIV di Kantornya
Written By suaraonlineterkini on Selasa, 22 Oktober 2013 | 01.02
Orang-orang yang Mati Konyol Akibat Operasi Plastik 'Abal-abal'
Orang-orang yang Mati Konyol Akibat Operasi Plastik 'Abal-abal'
Jika ingin mempercantik diri dengan operasi plastik, pastikan Anda
melakukannya dengan bantuan dokter bedah plastik yang benar-benar ahli.
Bila tidak, nyawalah yang jadi taruhannya.
Ingin cantik secara instan dan murah, tidak sedikit orang yang rela melakukan operasi
'abal-abal' seperti menggunakan silikon cair atau cara ilegal lainnya.
Padahal kesehatan tubuhnya bisa terancam, bahkan mati konyol dibuatnya.
Berikut beberapa orang yang mati konyol akibat operasi plastik 'abal-abal',
Ini Efek Negatifnya Kebiasaan Memukul Pantat Anak Sejak Kecil
Ini Efek Negatifnya Kebiasaan Memukul Pantat Anak Sejak Kecil
Untuk mendidik anak, orangtua kerap tega memukul pantat, menjewer, dan
mencubit anaknya. Padahal meski terlihat sepele, perlu diketahui jika
memukul pantat anak, misalnya, dapat meninggalkan dampak psikologis yang
mendalam bagi si anak.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam
jurnal Pediatrics ini mengungkapkan bahwa anak yang pantatanya sering
dipukul sang ibu sejak kecil lebih cenderung tumbuh menjadi anak yang
agresif dibandingkan dengan anak yang tidak pernah dipukul sama sekali.
Begitu juga jika pantat si anak kerap dipukul sang ayah karena ini
dikaitkan dengan gangguan bahasa misalnya anak jadi tak punya banyak
kosakata ketika berbicara.
"Bahkan efeknya terbukti tahan lama.
Ini bukanlah semata masalah jangka pendek yang akan hilang dari waktu ke
waktu. Efeknya juga jauh lebih kuat, terutama pada anak-anak yang
dipukul pantatnya lebih dari dua kali seminggu," ungkap peneliti Michael
MacKenzie dari Columbia University School of Social Work di New York
seperti dilansir CBS News, Selasa (22/10/2013).
Kesimpulan
itu diperoleh peneliti setelah mengamati 1.900-an keluarga di 20 kota
di Amerika yang ambil bagian dalam Fragile Families and Child Well-being
Study. Setiap orangtua ditanya seberapa sering mereka memukul pantat
anaknya ketika si anak berusia tiga dan lima tahun, lalu perilaku dan
kemampuan bahasa anak dievaluasi kembali ketika usia mereka mencapai 3
dan 9 tahun.
Tercatat 57 persen ibu dan 40 persen ayah suka
memukul pantat si anak ketika usia mereka baru tiga tahun. Sedangkan
saat usia anak lima tahun, 52 persen ibu dan 33 persen ayah dilaporkan
kerap memukul memukul pantat anak-anaknya. Angkanya memang cenderung
menurun, namun efeknya tak dapat diabaikan.
Karena dari sini
ditemukan fakta penting, yaitu anak yang ibunya masih sering memukul
pantat anaknya ketika usianya beranjak lima tahun maka mereka cenderung
tumbuh menjadi anak yang agresif saat usianya mencapai 9 tahun, tak
peduli seberapa banyak frekuensi si orangtua memukul anaknya.
Para
ibu yang suka memukul anaknya setidaknya dua kali seminggu ketika usia
si anak baru tiga tahun juga cenderung mempunyai anak dengan gangguan
perilaku. Sedangkan anak yang dipukul dua kali seminggu oleh ayahnya di
usia lima tahun dilaporkan lebih sering mendapatkan skor yang rendah
dalam tes kosakata maupun tes komprehensi bahasa yang dijalaninya di
sekolah.
Apalagi studi sebelumnya juga memperlihatkan adanya
keterkaitan antara kebiasaan memukul pantat anak dengan perilaku agresif
yang dimiliki si anak ketika beranjak dewasa. Untuk itu, peneliti ingin
mendorong para pakar lainnya agar mengkampanyekan efek negatif dari
memukul pantat anak pada para orangtua, termasuk mendidik mereka agar
menerapkan metode disiplin yang benar dalam mengasuh anak.
Bayi Minum Susu dari Botol, Risiko Kerusakan Lambung Meningkat
Bayi Minum Susu dari Botol, Risiko Kerusakan Lambung Meningkat
Pemakaian botol saat memberikan susu pada anak sering menjadi
kontroversi. Salah satu alasan untuk tidak memakai botol kembali
terungkap, kali ini terkait dengan peningkatan risiko kerusakan lambung
pada bayi.
Para ilmuwan dari University of Washington mengungkap
bahwa bayi yang disusui dengan botol 2 kali lebih berisiko mengalami
Hyperthropic Pyloric Stenosis (HPS) dibandingkan yang menyusu langsung
di payudara. Temuan ini dipublikasikan di jurnal JAMA Pediatrics.
Risiko
HPS juga meningkat sesuai usia ibu. Bayi dari para ibu berusia lebih
dari 35 tahun memiliki risiko 5 hingga 6 kali lebih besar untuk
mengalami gangguan lambung yang kadang hanya bisa diperbaiki dengan
operasi ini.
"Dari posisi sebagai dokter, ini hanya satu dari
sekian banyak studi yang menunjukkan bahwa menyusui sangat penting bagi
kesehatan bayi baru lahir," kata Dr Jarod McAteer yang melakukan
penelitian ini seperti dikutip dari Healthday, Selasa (22/10/2013).
HPS
terjadi karena penebalan pada lapisan otot halus di bagian polyrus,
yakni saluran antara lambung dengan usus kecil. Pembedahan kadang-kadang
diperlukan untuk mengatasi gangguan ini.
Kondisi ini terjadi
pada sekitar 2 dari 1.000 bayi di seluruh Amerika Serikat, dan salah
satu pemicunya adalah kerusakan usus. Bayi-bayi biasanya mengalami
gangguan ini sejak usia 3-5 pekan.
Para ilmuwan dalam penelian
terpisah juga mengungkap adanya penurunan kasus HPS di Washington, dari
14 per 1.000 kelahiran pada 2003 menjadi 9 per 1.000 kelahiran pada
2009. Salah satu faktornya adalah meningkatnya jumlah ibu yang menyusui
bayinya, dari 80 persen pada 2003 menjadi 94 persen pada 2009.
Tiap Tahun, Karyawan Hamburkan Waktu Seminggu untuk Merokok
Tiap Tahun, Karyawan Hamburkan Waktu Seminggu untuk Merokok
Jam istirahat di tempat-tempat kerja tak cuma dimanfaatkan untuk makan,
melainkan juga untuk merokok bagi karyawan yang merokok. Bila ditotal,
dalam setahun bisa terkumpul waktu rata-rata seminggu untuk mengisap
asap tembakau.
Hasil penelitian terbaru dari Voucher Codes Pro
menunjukkan, setiap hari karyawan menghabiskan waktu rata-rata 45 menit
dari waktu bekerjanya untuk merokok. Dalam kurun waktu seminggu, waktu
tersebut bisa mencapai 4 jam bila diakumulasikan.
Para ilmuwan
pun membuat perhitungan untuk sehatuh, dengan mempertimbangkan hari
libur yang berlaku di kebanyakan tempat kerja. Dibandingkan karyawan
yang langsung kembali bekerja setelah makan, karyawan yang merokok dulu
bekerja rata-rata 7 hari lebih sedikit dalam setahun.
Hanya
sedikit, yakni 20 persen responden yang meyakini bahwa kebiasaannya
merokok membuat semangat kerjanya mengendur. Sedangkan bagi 46 persen
responden yang merupakan perokok, merokok diyakini justru meningkatkan
kinerja karena bisa meredakan stres.
George Charles, direktur
marketing dari Voucher Codes Pro menganjurkan para pengelola perusahaan
untuk berpikir ulang saat hendak menerima karyawan yang punya kebiasaan
merokok. Menurutnya, jumlah waktu yang dihamburkan untuk memenuhi
kebiasaan tersebut cukup berharga.
"Urusan mempekerjakan seorang
perokok tidak diragukan lagi memang kontroversial. Namun jelas ada satu
hal yang perlu dicermati dari hasil studi ini," kata Charles seperti
dikutip dari Daily Mail, Selasa (22/10/2013).
Para responden yang
disurvei mengatakan dalam sehari mengambil jeda istirahat sebanyak 6
kali untuk merokok. Masing-masing jeda istirahat butuh waktu rata-rata 7
menit 30 detik, kurang lebih sama seperti waktu yang dibutuhkan untuk
menghabiskan sebatang rokok.
Pemborosan waktu yang terungkap
dalam penelitian ini masih belum termasuk cuti atau izin sakit yang
diambil para perokok. Seperti diketahui, rokok bisa melemahkan daya
tahan tubuh dan dalam jangka panjang memicu berbagai penyakit kronis
seperti gangguan jantung dan kanker.
Langganan:
Postingan (Atom)
Health
Space Iklan


