World News

More on this category »

Entertainment

More on this category »
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan

Ahok Jalani Konseling dan Tes HIV di Kantornya

Written By suaraonlineterkini on Selasa, 22 Oktober 2013 | 01.02

Ahok Jalani Konseling dan Tes HIV di Kantornya

Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjalani konseling dan tes HIV di kantornya. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka bulan bakti Voluntering Conseling dan Testing (VCT).

Ahok menjalani tiga tahap VCT yaitu pertama pengisian formulir pernyataan kesediaan untuk mengikuti tes tersebut.

"Kami tidak boleh memaksa kalo tidak bersedia," ujar petugas VCT yang menjelaskan isi formulir kepada Ahok, Gedung Blok G Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/10/2013).

Kemudian tahap kedua, petugas mengambil sampel darah Ahok dan menunggu hasilnya selama kurang lebih 20 menit. Setelah hasil tes darah keluar, Ahok menuju ruang konseling untuk pemberian hasil tes oleh konselor.

"Ini pertama kali kayak ujian gitu. Saya juga baru tahu. Hasil tesnya itu ditaruh di amplop. Terus saya liat negatif, atau positif, atau intermediate. Terus dapat hasil negatif, saya mau liat dong hasilnya. Tapi katanya enggak boleh," kata Ahok usai keluar dari ruang konselor.

Bulan bakti VCT ini digelar antara 22 Oktober hingga 21 November 2013 di seluruh Jakarta. Tidak ada persyaratan khusus untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan HIV gratis ini, siapapun boleh memeriksakan diri secara gratis.

Untuk keterangan lebih lanjut, berikut ini nomor-nomor yang bisa dihubungi:

Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta: (021) 47880166
Komisi Penanggulangan AIDS Kotamadya Jakarta Selatan: (021) 7395944
Komisi Penanggulangan AIDS Kotamadya Jakarta Timur : (021) 4804933
Komisi Penanggulangan AIDS Kotamadya Jakarta Barat : (021) 58357693
Komisi Penanggulangan AIDS Kotamadya Jakarta Utara : (021) 4301124 ext 5591
Komisi Penanggulangan AIDS Kotamadya Jakarta Pusat : (021) 3840526

Data kementerian kesehatan menunjukkan, DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan kasus HIV terbesar di Indonesia. Hingga bulan Maret 2013, tercatat ada 23.793 kasus HIV dan 6.299 kasus AIDS di DKI.

Orang-orang yang Mati Konyol Akibat Operasi Plastik 'Abal-abal'

Orang-orang yang Mati Konyol Akibat Operasi Plastik 'Abal-abal'

Jika ingin mempercantik diri dengan operasi plastik, pastikan Anda melakukannya dengan bantuan dokter bedah plastik yang benar-benar ahli. Bila tidak, nyawalah yang jadi taruhannya.

Ingin cantik secara instan dan murah, tidak sedikit orang yang rela melakukan operasi 'abal-abal' seperti menggunakan silikon cair atau cara ilegal lainnya. Padahal kesehatan tubuhnya bisa terancam, bahkan mati konyol dibuatnya.

Berikut beberapa orang yang mati konyol akibat operasi plastik 'abal-abal', 

Ini Efek Negatifnya Kebiasaan Memukul Pantat Anak Sejak Kecil

Ini Efek Negatifnya Kebiasaan Memukul Pantat Anak Sejak Kecil

Untuk mendidik anak, orangtua kerap tega memukul pantat, menjewer, dan mencubit anaknya. Padahal meski terlihat sepele, perlu diketahui jika memukul pantat anak, misalnya, dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi si anak.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics ini mengungkapkan bahwa anak yang pantatanya sering dipukul sang ibu sejak kecil lebih cenderung tumbuh menjadi anak yang agresif dibandingkan dengan anak yang tidak pernah dipukul sama sekali. Begitu juga jika pantat si anak kerap dipukul sang ayah karena ini dikaitkan dengan gangguan bahasa misalnya anak jadi tak punya banyak kosakata ketika berbicara.

"Bahkan efeknya terbukti tahan lama. Ini bukanlah semata masalah jangka pendek yang akan hilang dari waktu ke waktu. Efeknya juga jauh lebih kuat, terutama pada anak-anak yang dipukul pantatnya lebih dari dua kali seminggu," ungkap peneliti Michael MacKenzie dari Columbia University School of Social Work di New York seperti dilansir CBS News, Selasa (22/10/2013).

Kesimpulan itu diperoleh peneliti setelah mengamati 1.900-an keluarga di 20 kota di Amerika yang ambil bagian dalam Fragile Families and Child Well-being Study. Setiap orangtua ditanya seberapa sering mereka memukul pantat anaknya ketika si anak berusia tiga dan lima tahun, lalu perilaku dan kemampuan bahasa anak dievaluasi kembali ketika usia mereka mencapai 3 dan 9 tahun.

Tercatat 57 persen ibu dan 40 persen ayah suka memukul pantat si anak ketika usia mereka baru tiga tahun. Sedangkan saat usia anak lima tahun, 52 persen ibu dan 33 persen ayah dilaporkan kerap memukul memukul pantat anak-anaknya. Angkanya memang cenderung menurun, namun efeknya tak dapat diabaikan.

Karena dari sini ditemukan fakta penting, yaitu anak yang ibunya masih sering memukul pantat anaknya ketika usianya beranjak lima tahun maka mereka cenderung tumbuh menjadi anak yang agresif saat usianya mencapai 9 tahun, tak peduli seberapa banyak frekuensi si orangtua memukul anaknya.

Para ibu yang suka memukul anaknya setidaknya dua kali seminggu ketika usia si anak baru tiga tahun juga cenderung mempunyai anak dengan gangguan perilaku. Sedangkan anak yang dipukul dua kali seminggu oleh ayahnya di usia lima tahun dilaporkan lebih sering mendapatkan skor yang rendah dalam tes kosakata maupun tes komprehensi bahasa yang dijalaninya di sekolah.

Apalagi studi sebelumnya juga memperlihatkan adanya keterkaitan antara kebiasaan memukul pantat anak dengan perilaku agresif yang dimiliki si anak ketika beranjak dewasa. Untuk itu, peneliti ingin mendorong para pakar lainnya agar mengkampanyekan efek negatif dari memukul pantat anak pada para orangtua, termasuk mendidik mereka agar menerapkan metode disiplin yang benar dalam mengasuh anak.

Bayi Minum Susu dari Botol, Risiko Kerusakan Lambung Meningkat

Bayi Minum Susu dari Botol, Risiko Kerusakan Lambung Meningkat

Pemakaian botol saat memberikan susu pada anak sering menjadi kontroversi. Salah satu alasan untuk tidak memakai botol kembali terungkap, kali ini terkait dengan peningkatan risiko kerusakan lambung pada bayi.

Para ilmuwan dari University of Washington mengungkap bahwa bayi yang disusui dengan botol 2 kali lebih berisiko mengalami Hyperthropic Pyloric Stenosis (HPS) dibandingkan yang menyusu langsung di payudara. Temuan ini dipublikasikan di jurnal JAMA Pediatrics.

Risiko HPS juga meningkat sesuai usia ibu. Bayi dari para ibu berusia lebih dari 35 tahun memiliki risiko 5 hingga 6 kali lebih besar untuk mengalami gangguan lambung yang kadang hanya bisa diperbaiki dengan operasi ini.

"Dari posisi sebagai dokter, ini hanya satu dari sekian banyak studi yang menunjukkan bahwa menyusui sangat penting bagi kesehatan bayi baru lahir," kata Dr Jarod McAteer yang melakukan penelitian ini seperti dikutip dari Healthday, Selasa (22/10/2013).

HPS terjadi karena penebalan pada lapisan otot halus di bagian polyrus, yakni saluran antara lambung dengan usus kecil. Pembedahan kadang-kadang diperlukan untuk mengatasi gangguan ini.

Kondisi ini terjadi pada sekitar 2 dari 1.000 bayi di seluruh Amerika Serikat, dan salah satu pemicunya adalah kerusakan usus. Bayi-bayi biasanya mengalami gangguan ini sejak usia 3-5 pekan.

Para ilmuwan dalam penelian terpisah juga mengungkap adanya penurunan kasus HPS di Washington, dari 14 per 1.000 kelahiran pada 2003 menjadi 9 per 1.000 kelahiran pada 2009. Salah satu faktornya adalah meningkatnya jumlah ibu yang menyusui bayinya, dari 80 persen pada 2003 menjadi 94 persen pada 2009.

Tiap Tahun, Karyawan Hamburkan Waktu Seminggu untuk Merokok

Tiap Tahun, Karyawan Hamburkan Waktu Seminggu untuk Merokok

Jam istirahat di tempat-tempat kerja tak cuma dimanfaatkan untuk makan, melainkan juga untuk merokok bagi karyawan yang merokok. Bila ditotal, dalam setahun bisa terkumpul waktu rata-rata seminggu untuk mengisap asap tembakau.

Hasil penelitian terbaru dari Voucher Codes Pro menunjukkan, setiap hari karyawan menghabiskan waktu rata-rata 45 menit dari waktu bekerjanya untuk merokok. Dalam kurun waktu seminggu, waktu tersebut bisa mencapai 4 jam bila diakumulasikan.

Para ilmuwan pun membuat perhitungan untuk sehatuh, dengan mempertimbangkan hari libur yang berlaku di kebanyakan tempat kerja. Dibandingkan karyawan yang langsung kembali bekerja setelah makan, karyawan yang merokok dulu bekerja rata-rata 7 hari lebih sedikit dalam setahun.

Hanya sedikit, yakni 20 persen responden yang meyakini bahwa kebiasaannya merokok membuat semangat kerjanya mengendur. Sedangkan bagi 46 persen responden yang merupakan perokok, merokok diyakini justru meningkatkan kinerja karena bisa meredakan stres.

George Charles, direktur marketing dari Voucher Codes Pro menganjurkan para pengelola perusahaan untuk berpikir ulang saat hendak menerima karyawan yang punya kebiasaan merokok. Menurutnya, jumlah waktu yang dihamburkan untuk memenuhi kebiasaan tersebut cukup berharga.

"Urusan mempekerjakan seorang perokok tidak diragukan lagi memang kontroversial. Namun jelas ada satu hal yang perlu dicermati dari hasil studi ini," kata Charles seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (22/10/2013).

Para responden yang disurvei mengatakan dalam sehari mengambil jeda istirahat sebanyak 6 kali untuk merokok. Masing-masing jeda istirahat butuh waktu rata-rata 7 menit 30 detik, kurang lebih sama seperti waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan sebatang rokok.

Pemborosan waktu yang terungkap dalam penelitian ini masih belum termasuk cuti atau izin sakit yang diambil para perokok. Seperti diketahui, rokok bisa melemahkan daya tahan tubuh dan dalam jangka panjang memicu berbagai penyakit kronis seperti gangguan jantung dan kanker.
 

Health

More on this category »

Space Iklan

kabarpesat